di jalan dakwah aku menikah

Filed under: Religion — ghiffariazzahra at 5:34 pm on Saturday, February 28, 2009

Ada jalan instinktif yang biasa dilalui manusia pada umumnya, bahwa
pernikahan adalah cara menyalurkan kebutuhan biologis yang pasti muncul
pada laki-laki dan perempuan dewasa. Jalan yang menghantarkan setiap
orang, apapun agama dan ideologinya, untuk bisa mencintai dan
menyayangi psangan hidupnya. Menumpahkan syahwat secara bertanggung
jawab kepada pasangannya.
Binatang mengekspresikan keinginan berpasangan secara instinktif. Tentu
saja binatang tidak memiliki tujuan yang ideologis dalam melaksanakan
fungsi reproduktif. Mereka hanya diberi instink mengembangkan keturunan
dengan jalan penyaluran libido seksual kepada lawan jenis. Mereka
dibekali naluri yang kuat untuk mendekati lawan jenis dan melampiaskan
keinginan instinktifnya.
Pilihan jalan ini bersifat tradisional, secara intuitif manusia
memerlukan teman dan pasangan hidip. Maka mereka mencari pasangan
semata-mata dengan orientasi besar penyaluran kebutuhan bilogis.
Pilihan pasangan hidupnya pun sesuai dengan tujuan tersebut, yaitu
harus bisa memuaskan keperluan syahwatnya secara optimal. Desakan untuk
menikah karena pertimbangan usia yang semakin dewasa dan dorongan
libido yang kian memuncak. Jalan ini merupakan pilihan masyarakat yang
awam akan agama dan jauh dari sentuhan spiritulitas.
Di jalan apa Anda menikah? Ada ideologi materialisme yang menawarkan
janji-janji serbamateri. Kekayaan, kemegahan, keserbapunyaan material
akan menjadi tawaran utama tatkala anda menapakinya. Kehidupan layaknya
borjuis, mengukur segala sesuatu berdasarkan aspek materi, kebaikan
diukur dari segi melimpahnya harta dunia. Pesta pernikahan di dasar
samudra, bulan madu di angkasa raya, malam pertama di California, itu
janji-janjinya.
Perhatikan bagaimana Alah swt. mencirikan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah:
“…dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan
seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal
mereka.”(Muhammad:12)

Mereka hidup hanya berfoya-foya, tidak mengenal orientasi ukhrawi.
Hidup mereka penuh dengan kemelimpahan materi. Dampaknya ketika
memutuskan untuk melaksanakan pernikahan, tolak ukur utamanya adalah
materi. Memilih calon suami atau istri lebih meninjau sisi materialnya.
Baik materi itu berupa kekayaan, atau materi dalam konteks kecantikan,
ketampanan, bentuk tubuh, berat dan tinggi badan, warna kulit dan lain
sebagainya.
Allah mencela orientasi materialisme, dengan mengungkapkan celaan pada pelakunya:
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang amat sangat (Al-Fajr:20)
Demkian juga Allah swt. Telah mengecam pemilik kemewahan yang berorientasi materialistis.
Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur (At Takatsur: 1-3)
Sebuah celaan yang amat dasyat, bagaimana orang berlomba-lomba dalam
orientasi materi, sehingga membutakan mata ruhani dan membakar nafsu
duniawi mereka. Sampai masuk kubur mereka masih berpikir membawa
kemewahan dunia. Dalam ayat lai Allah mencela mereka yang senantiasa
mengukur segala sesuatu dengan harta.
Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa harta itu dapat mengekalkannya. (Al Humazah:2-3)
Sebuah orientasi picik yang akan menghantarkan manusia menuju kehinaan.
Benarlah kata-kata bijak yang mengingatkan akan masalah ini,
“Barangsiapa orientasi dan cita-citanya hanyalah sebatas pada apa yang
masuk ke dalam perutnya, maka nilai kemanusiannya tak lebih dari apa
yang keluar dari perutnya.
Betapa banyak masyarakat kita yang rela meninggalkan keyakinan agamanya
hanya karena ingin mendapatkan jodoh yang tampan, cantik dan kaya. Jika
jalan ini menjadi pilihan anda, kerugian sudah pasti merupakan
akibatnya. Ini adalah pilihan hidup yang menyesatkan, bukankah manusia
memiliki sifat dasar tidak pernah bisa memuaskan?
Di jalan apa anda menikah? Ada jalan setan yang membentang luas di
sebelah kanan dan kiri anda, mengajak anda melewatinya, dengan berbagai
janji-janji keindahan dan kenikmatan. Setan menawarkan kebebasan
melampiaskan hawa nafsu, kebebasan pemenuhan syahwat, berganti-ganti
pasangan untuk saling menikmati sebelum terjadinya pernikahan.
“syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat
Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya
golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.” (Al-Mujadilah:19)

Ketika manusia mulai dikuasai setan, yang bergerak dalam hati
pikirannya hanyalah kekuasaan setan. Hawa nafsu telah menguasai gerak
langkahnya, segala yang dilarang Allah tampak demikian indah dan
menyenangkan, mereka telah mengabdi kepada kepentingan nafsunya sendiri.

Setan berusaha dengan sekuat tenaga mereka untuk membangkitkan
angan-angan kosong pada manusia yang lengah dan lalai dari dzikrullah.
Jalan setan dipenuhi dengan hiasan-hiasan keindahan versi setan, hidup
dalam angan-angan kosong, khayalan, lamunan berkepanjangan,
mengandai-andaikan keindahan hidup. Lalu bagaimana mungkin anda akan
memilih menikah di jalan setan, padahal jelas-jelas akan menipu dan
menyesatkan?
\
Di jalan apakah anda menikah? Nun jauh disana, ada kehidupan lain yang
menolak kemewahan. Adalah serbaruhani. Dimana keridakpunyaan menjadi
dasar pilihannya. Kehidupan material harus ditinggalkan karena sumber
permasalahan. Harta adalah sampah dunia yang kotor dan menjijikkan.
Keluarga yang bergelimang dalam kehidupan materi akan malenakan, jangan
mencari materi, sebab ia akan menyesatka. Orientasi serbamateri membawa
anda kepada kehidupan kehinaan, sebab nafsu memiliki benda-benda adalah
syahwat yang membakar dan menghanguskan. Materi akan menghinakan anda,
maka berpalinglah darinya, begitu prinsip merka yang berada di jalan
serbaruhani.
Antitesa dari jalan serbamateri adalah jalan serbaruhani. Perlawanan
kultural dan ideologis, vis a vis, melawan kemewahan dengan ketiadaan,
melawan kerakusan dengan keberpalingan dari dunia, melawan keberadaan
dengan ketiadaberadaan. Jalan ini amat menistakan keberlimangan
material, menolak hidup berlimpah harta, tubuh gemuk, malas ibadah dan
pula syahwat menguasai hidup, akan tetapi mereka melawan dengan ekstrim
di sisi yang lain.
Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan materi selama diperoleh dengan
cara yang benar. Islam menganggap harta adalah bagian dari perhiasan
dunia yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang dan mengamalkan kebaikan.
Sekalipun Islam tidak menghendaki umatnya berorientasi serba materi,
akan tetapi juga menolak jalan serbaruhani yang menolak kepentingan
materi.

Di jalan apakah anda menikah? Terbentang pula dengan lurus dan amat
luas jalan dakwah. Jalan para Nabi dan syuhada, jalan orang-orang
saleh, jalan para ahli surga yang kini telah bercengkerama di
taman-tamannya:
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha
suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”.
(Yusuf:108)

Hadzihi sabili, inilah jalanku, yakni ad’u ilallah, aku senantuasa
mengajak manusia kepada Allah. Fi’il mudhari’ yang digunakan pada
kalimat ad’u ilallah semakin menegaskan bahwa dakwah adalah pekerjaan
yang sedang dan akan terus-menerus dilakukan kaum muslimin, yaitu ana,
Rasulullah saw, wamanittaba’ani dan orang-orang yang mengikuti
Rasullullah saw sampai akhir zaman nanti.
Inilah jalanku, yaitu jalan dakwah, jalan yang membentang lurus menuju
kebahagiaan dan kepastian akhir. Jalan yang dipilihkan Allah untuk para
Nabi, dan orang-orang yang setia mengikuti mereka. Jalan inilah yang
menghantarkan Nabi saw menikahi istri-istrinya. Jalan ini yang
mengantarkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah. Jalan yang
menyebabkan bertemunya Ali r.a dan Fatimah az-Zahra dalam sebuah
keluarga. Di jalan dakwah itulah Nabi saw menikahi Ummahatul Mukminin.
Di jalan itu pula para sahabat Nabi menikah. Di jalan dakwah itulah
orang-orang saleh membina rumah tangga. Jalan ini menawarkan kelurusan
orientasi, bahwa pernikahan adalah ibadah. Bahwa berkeluarga adalah
salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi
Allah.
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka
ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Al-An’am:153)

Menikah di jalan dakwah akan mendapatkan keberuntungan. Di jalan ini
para sahabat Nabi melangkah, di jalan ini mereka menikah, di jalan ini
pula mereka meninggal sebagai syahid dengan kematian yang indah. Jalan
yang tak pernah memberikan kerugian. Justru senantiasa menjadi
invesatasi masa depan yang menguntungkan di dunia maupun akhirat.
Di jalan ini kecenderungan ruhiyah amat mendapat perhatian, akan tetapi
tidak mengabaikan segi-segi materi. Di jalan ini setan terkalahkan oleh
orientasi Rabbani, dan menuntun prosesnya, dari awal sampai akhir,
senantiasa memiliki kontribusi terhadap kebaikan dan umat. Sejak dari
persiapan diri, pemilihan jodoh, peminangan, akad nikah hingga walimah
dan hidup satu rumah. Tiada yang dilakukan kecuali dalam kerangka
kesemestaan dakwah.

(dikutip dari buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”, karya Cahyadi Takariawan)



1 Comment »

5

   myfathin

March 30, 2009 @ 11:16 pm

wudih wudih, kapan ni undangannya?

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>